AGAR ANAK GIAT BELAJAR

Belajar merupakan kunci dalam keberhasilan hidup. Tapi seringkali orangtua mengalami kesulitan untuk menanamkan kegiatan yang satu ini. Doronglah anak agar gemar belajar sejak dini. Bagaimana caranya?

Apa yang membuat kita dengan sukarela melakukan melakukan kegiatan tertentu? Atau dengan kata lain , apa yang membuat kita gemar melakakukan kegiatan tertentu?

Ya tentu saja karena kegiatan itu menarik dan meneyangkan . Begitu juga dalam belajar. Kita akan senang belajar, kalau belajar ituu kita anggap sebagai sesuatu yang menyenangkan. Agar anak gemar belajar, merasa belajar merupakan kegiatan yang menarik, bermanfaat dan menyenangkan, apa yang harus kita lakukan?

1. Tunjukkan Minat Bunda
Perlihatkan minat bunda pada anak. Lihatlah buku-buku pelajaran anak, hingga Bunda memahami apa saja yang mereka pelajari, dan diskusikan hal ini dengan anak. Tanyakan bagaimana pengalaman anak dengan guru dan teman-temannya. Dengarkan ceritanya baik-baik. Kalau anak merasakan minat dan antusiasme Bunda pada kehidupannya, apada hal-hal yang dipelajarinya, pada kemajuan studinya, tentu ia makin terdorong untuk giat belajar

2. Lebih baik diskusi
Jangan lupa, Bunda lebih diharapkan untuk menanamkan minat dan kebutuhan belajar anak, bukan untuk mengajar. Cobalah untuk sebanyak mungkin  menggunakan metode diskusi. Dalam diskusi, semua pihak aktif bukan? Keaktifan inilah yang akan menimbulkan minat serta kebutuhan belajar pada anak. Bahan untuk didiskusikan amat banyak. Bunda bisa mencari berbagai hal yang 'menakjubkan' dan menggembirakan dalam kehidupan sehari-hari. Jangan lupa berdiskusi dengan anak, bukan mengajar anak.

3. Tanamkan cinta buku
Buku merupakan sumber informasi ang kaya. Maka usaha untuk menanamkan rasa cinta buku pada anak sedini mungkin amat dianjurkan.  Caranya beragam. Misalnya dengan menciptakan 'waktu untk membaca buku' bersamanya.  Di waktu membaca buku itu, Bunda membacakan buku dan ia mendengarkan, atau sebaliknya (bila anak sudah lancar membaca). Biasakan memberi hadiah anak berupa buku. Membentuk perpustakaan mini di rumah juga amat berguna.

4. Jangan remehkan pertanyaannya
Rasa ingin tahu anak yang kuat timbul secara alamiah. Rasanya, semua hal ditanyakan. Cobalah untuk tidak meremehkan atau 'takut' pada pertanyaan anak. Bukankah pertanyaan anak menunjukkan minat belajarnya? Kalau tak tahu, Bunda bisa mencari jawaban pertanyaan dari sumber lain, seperti ensiklopedia atau bisa juga googling di internet. Tentu lebih baik Bunda mencarinya bersama anak untuk mengajarkan kemampuan menemukan jawaban padanya.

5. Jangan tertawakan
Meski kesalahan yang dibuat anak begitu menggelikan, jangan sekalipun menertawakan keluguannya. Kalau ditertawakan, ia akan merasa malu atau marah dan tidak mau belajar lagi. Sebaiknya Bunda tetap seriusd mendengarkan, baru mengoreksi kesalahannya. Ketika mengoreksipun, sebaiknya Bunda mulai dari hal-hal benar yang dilakukan, misalnya, "Memang benar ada yang namanya ikan duyung, tapi...." Memang kita harus bersikap hati-hati. Kadang anak menjadi begitu sensitif.

6. Belajar dari kesalahan
Kalau Bunda memang bersalah, misalnya menghukum tanpa alasan atau salah dalam menjelaskan sesuatu, jangan segan-segan minta maaf pada anak. Permintaan maaf Bunda akan bermanfaat ganda. Pertama, menciptakan hubungan 'saling memaafkan'. Kedua, membantu anak agar mengerti tak semua orang selalu benar dan orang harus belajar dari kesalahan yang dibuatnya. Kalau ada tugas sekolah yang sudah dikoreksi guru, minta pada anak agar ia memperlihatkan pada Bunda. Tanyakan, apakah ia mengerti kesalahan yang dibuatnya. Jangan lupa, komentari hal-hal baik yang dibuat anak.

7. Belajar, jangan berkesan hukuman
Mungkin saja anak beranggapan bahwa belajar identik dengan hukuman. Misalnya jika Bunda menghukum anak dengan menyuruh belajar entah menulis abjad, menjawab soal matematika yang sulit atau mengarang cerita, maka ia akan membentuk keyakinan bahwa belajar (menghitung, menulis, mengarang), sama dengan hukuman. Lambat laun ia akan merasa bahwa belajar itu tidak menyenangkan, karena sama dengan hukuman.

8. Belajar bukanlah kompetisi
Cobalah untuk selalu menekankan bahwa belajar tidak sama dengan kompetisi. Dalam belajar, yang penting bukanlah mencapai nilai tertinggi, melainkan usaha untuk belajar. Pujilah usaha anak meski ia tak meraih hasil tertinggi. Juga sangat membantu bila anak terlibat dalam permainan non-kompetitif, ataupun dalam permaianan tum, dimana ia harus bekerja sama dengan kelompoknya.

9. Minta penjelasan pada anak
Kita akan lebih menguasai suatu ketrampilan atau pengetahuan baru, kalau harus menjelaskan pada orang lain. Nah, terapkan saja prinsip ini. Minta agar anak menjelaskan pengeytahuan dan keterampilan yang baru didapatnya di sekolah. Ketika dia menerangkan, tunjukkan perhatian Bunda. Cobalah, hal ini akan mendorong anak untuk berusaha menguasai keterampilan dan pengetahuan tersebut.

10. Jadikan matematika sesuatu yang menarik
Matematika sering dianggap momok anak sekolah. Anggapan ini kerap menimbulkan ketidaksukaan anak pada matematika, sebelum mereka mempelajarinya. Betulkah matematika itu sulit? Tentu tidak. Bagaimana cara meyakinkan hal itu pada anak? Tidaklah sulit, kaitkan saja dengan kehidupan anak sehari-hari. Misalnya kalau Bunda membuat kue, ajak anak untuk ikut mengukur bahan-bahan yang Bunda perlukan. Saat berbelanja, minta agar anakmenghitung jenis barang yang dibeli. Dengan mengaitkannya dengan kehidupan sehari-hari, anak akan merasa bahwa matematika adalah ilmu yang menarik, bermanfaat dan tidak sulit untuk dipelajari.

ARTIKEL LAIN

Agar Anak Suka Membaca
Anak Terkunci di Dalam Mobil
Penyakit yang disertai demam

Komentar